Jumat, 14 Agustus 2009

........yang terampas............

duh, ternyata baru hari ini aku kembali melihat dan mencoba menulis kembali di dalam halaman ini setelah sekian lama inspirasi "dirampas" oleh dunia baru yang coba aku geluti dan memang dunia itu sungguh mengasyikkan.... yah, semoga saja aku bisa membagi diantara keduanya sehingga semua daya yang kupunya bisa terasah dengan baik, termasuk mata, telingan dan otakku...

...imaji itu harus selalu dipupuk agar tumbuh dengan subur dan menghasilkan kepuasan yang tiada tara...

semuanya.....semoga....

Rabu, 10 Juni 2009

The Greatest Good

Minggu lalu saat bongkar beberapa kotak dirumah, tak sengaja aku menemukan sebuah keping DVD yang berjudul "The Greatest Good". Penasaran dengan apa isi dari Minggu lalu saat bongkar beberapa kotak dirumah, tak sengaja aku menemukan sebuah keping DVD yang berjudul "The Greatest Good". Penasaran dengan apa isi dari film ini langsung saja aku putar di tv.

Ternyata film ini merupakan film tentang 100 tahun kehutanan di Amerika. Sebuah dokumenter sejarah bagaimana amerika membangun sistem kehutanan sejak perang saudara antar utara dan selatan. Pada awalnya tanah di negeri paman Sam sana dibagi-bagi oleh penguasa kepada jawatan kereta api, orang kaya dan beberapa kelompok orang. Pemanfaatan kayu dilakukan dengan demikian besar menyebabkan kekhawatiran akan terjadinya kekurangan pasokan kayu dalam beberapa waktu ke depan. Ini terjadi terutama di kawasan timur amerika. Mereka juga tak memiliki ahli kehutanan pada masa itu hingga muncul seorang anak muda yang pada dasarnya berasal dari keluarga Perancis yang menetap di Amerika dan memiliki bisnis dibidang perkayuan. Namun untuk menjadi ahli kehutanan dia harus belajar ke negeri Eropa.

Pemuda inilah yang menjadi cikal bakal pengelolaan hutan di Amerika dengan menanamkan filosofi bahwa hutan dapat dimanfaatkan dengan memanen pertumbuhannya saja dan ini bisa dilakukan dalam kurun waktu yang lama.

Perjuangan dan kerja keras pemuda ini mendapatkan dukungan dari pemerintah dan masyarakat pada umumnya hingga terbentuk satu organinsasi pemerintah yang bernama "Forest Service" dan menetapkan beberapa kawasan sebagai "National Forest"

Hmm, mau tau apa itu "Forest Service"; "National Forest" atau "National Park" dan istilah lainnya??

Sebaiknya anda menonton film dokumenter berdurasi 2 jam ini dengan seksama saja ya..



Selasa, 09 Juni 2009

kembali lagi

Duh lama juga ngak nulis lagi di blog ini. Sejak jadi penggila Facebook memang agak jarang lagi mengunjungi dan berkeluh kesah tentang semua hal disini. Kebiasaan mengupdate status sendiri atau mengomentari status kawan lain menjadi kerutinan tersendiri. Namun kerinduan itu tetap ada untuk kembali menulis isi hati yang mungkin tak bisa banyak diungkapkan dengan lisan. Ya, kadang dengan lisan kita menjadi lupa akan sesuatu hal yang telah kita keluarkan dari lidah.

Kembali lagi...., ya ini menjadi hal yang sama kualami dengan kawasan hutan lindung Sungai Lesan. sudah dua tahun lebih saya tak lagi ke lokasi ini, walaupun setiap perkembangan aku selalu mencoba mendapatkan update dari kawan-kawan yang ada disana maupun di tg redeb. Mulai dari tak aktifnya badan pengelola, bubarnya pekoka, pembangunan sarana prasarana melalui apbd 1, diskusi revisi renstra yang berakhir tak jelas serta berbagai perkembangan lainnya.

Minggu lalu aku mendapatkan kesempatan untuk kembali ke kawasan hutan lindung ini bersama dengan dua orang turis yang ingin merasakan nikmatnya trekking dan hiking di hutan hujan tropis. Akupun bersedia menjadi touris guide bagi mereka. "Sambil menyelam minum air" begitu aku umpamakan diriku.

Senin siang kami menuju kampung Muara Lesan sebagai pintu gerbang dan sekaligus tempat menunggu ketinting yang akan menghantarkan kami ke kawasan. Tak banyak yang berubah dari kampung ini, dermaganya, keramahan warganya, jalan dan sungainya pun tak berubah. Yang berubah hanya adanya plang nama kawasan hutan lindung yang dibuat oleh staff sebuah organisasi konservasi internasional (OKI).

Perjalanan pun dilanjutkan dengan menggunakan ketinting yang dinahkodai oleh pa Tono. Bapak yang sejak dulu tetap terlihat cool dan penuh wibawa. Mantan sekertaris desa ini dengan cekatan menyusuri alur sungai Kelay dan Lesan membuat kami merasakan aman diketintingnya. Betapa beruntungnya kami dalam perjalanan ini banyak kelompok Bekantan atau monyet Belanda yang dengan atraktif menarik perhatian kami dirimbunya pohon ara yang ada disepanjang tepi sungai Lesan. Sebuah pemandangan yang membuat tamuku tersenyum gembira dan “excited” sekali.

Puas menikmati pemandangan tepi sungai, kami pun tiba di stasiun riset Leja’ yang dulu menjadi tanggung jawabku dalam pembangunannya. Sempat berdesir saat kuinjakkan kaki di beranda stasiun ini. Bagaimana tidak, yang kulihat begitu tak terawatnya stasiun ini. Sampah berserakan dimana – mana dan kotor menghiasi dinding. Maklum memang karena setelah dua tahun tidak ada yang menghuni dan merawat bangunan ini dengan baik. Pekoka yang dulu aktif berjaga dan merawat bangunan ini tidak lagi ada dan anggotanya tersebar ke berbagai bidang usaha lainnya. Ada yang bekerja sebagai buruh di perkebunan sawit, menjadi pekebun karet, coklat, supir dan bekerja di perusahaan tambang. Yah, begitulah hidup mesti berlanjut dan merekapun harus tetap maju…

Potensi

Pada dasarnya kawasan ini punya potensi untuk dikembangkan menjadi model pengelolaan hutan lindung yang lebih baik. Pengelolaan yang berbasiskan pengelolaan kolaboratif bersama dengan pemerintah daerah, masyarakat dan pihak swasta. Kawasan ini memiliki keterikatan yang sangat kuat dengan masyarakat sekitarnya sebagai kawasan penting bagi mereka.

Kawasan ini juga memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi serta merupakan habitat orangutan sehingga kawasan ini juga berpotensi menjadi kawasan eco-wisata dan dapat menghubungkan antar wisata alam dengan wisata budaya.

Pemerintah Kabupaten Berau pun memiliki komitmen yang tinggi dalam menanamkan investasinya. Beberapa sarana wisata mulai dibangun dikawasan ini berupa trek wisata, pos pengamatan, guest house. Menara pengawas dan dapat digunakan sebagai lokasi bird watching setinggi kurang lebih 40 meter dari permukaan tanah dibangun oleh sebuah OKI.

Masalah

Namun sayangnya segala jerih payah dan investasi yang ditanamkan dalam menginisiasi kawasan ini menjadi kawasan yang memiliki nilai lebih tak berjalan dengan baik. Tercatat sejak tahun 2006 tak ada lagi upaya pengelolaan kawasan ini. Hingga berbagai permasalahan pun muncul. Pengelolaan yang terkesan tidak berlangsung dengan baik, adanya kesan kawasan ini menjadi milik sebuah OKI, berubahnya komitmen masyarakat serta adanya tekanan dari perusahaan swasta disekitar kawasan. Perlu diketahui kawasan ini telah dikepung oleh perusahaan perkebunan, HTI dan HPH.

Lalu bagaimana selanjutnya??

Solusi

Tak dipungkiri lagi bahwa semua pihak yang terlibat dalam upaya pengelolaan kawasan ini harus lebih terbuka dalam merumuskan rencana kedepan dan kepentingannya masing-masing. Kemudian perlu dilakukan re-management dan re-evaluasi terhadap semua program yang telah dilakukan termasuk didalamnya re-organisasi pengelola kawasan.

Harapannya visi dari pengelolaan kawasan ini “Terwujudnya Kelestarian Hutan Lindung Sungai Lesan sebagai Habitat Orangutan dan mampu memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat” menjadi kenyataan.

Sabtu, 14 Februari 2009

9 Matahari

Novel ini bercerita tentang kehidupan dan perjuangan seorang gadis yang memiliki impian kuat untuk terus mendapatkan pendidikan setinggi mungkin walaupun dia hanya berasal dari keluarga sederhana di pinggiran ibukota Jakarta.

Matari, nama gadis itu. Ia bercita-cita menjadi Sarjana, yang oleh bapaknya sangat ditentang karena menurutnya perempuan tak perlu jadi Sarjana karena toh nantinya akan berkutat di dapur juga. Tapi Matari tak patah arang. Ia pun meminta bantuan dan meyakinkan kakaknya agar dapat mewujudkan impiannya tersebut.

Dengan penuh keyakinan Matari pun berangkat ke Bandung untuk meneruskan pendidikannya. Ternyata keyakinan tak hanya cukup untuk mengejar cita-cita. Di kota Kembang ini dia masih terus berjuang. Berhitung dengan segala kekurangan, gali lubang tutup lubang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bekerja siang malam sebagai penyiar radio juga belum cukup untuk menambal hutang diawal kuliah. Jatuh bangun dialami oleh Matari. Namun dia pantang menyerah demi sebuah impian.

Kenapa 9??
Ya, kenapa 9? Karena tak mungkin manusia memiliki nilai 10 yang merupakan angka sempurna bagi beberapa orang. Juga tak mau angka 8 karena bentuk angka delapan yang terdiri dari dua lingkaran yang digabungkan kadang membuat pemiliknya menutup diri untuk terus maju. Tapi sembilan yang bagian atasnya merupakan lingkaran berarti bagian pribadi si pemilik namun masih menyisakan ruang dibagian bawahnya dengan lingkaran sedikit terbuka untuk mendapatkan masukan dari orang lain dan terus maju ke depan.

Berhasilkah Matari??


Cerita yang begitu mengalir penuh semangat dan inspirasi ini sangat bagus untuk kawan-kawan yang saat ini sedang atau akan menjalani kehidupan kuliah. Begitu pula dengan gambaran kota kembang dengan segala kesibukan warganya menambah kekuatan setting cerita.

A recommended book for all of us...

Jalan Poros Kaltim

Jika kita mendengar jalan poros Kalimantan Timur yang menghubungkan Samarinda-Berau rusak parah akibat banyaknya kendaraan berat yang ikut melewati jalur ini di beberapa media maka hal yang sama juga terjadi di jalur Tanjung Selor - Malinau tepatnya didaerah Pimping.

Sebenarnya jalur yang rusak ini tidaklah terlalu jauh, sekitar kurang lebih 7 Km saja namun karena kondisinya yang semakin parah maka tak jarang kendaraan roda empat harus bermalam di titik ini. Salah satu teman bahkan sempat bermalam di titik ini saat menuju ke Malinau.

Berikut adalah gambar yang terjadi di titik ini pada 10 Feb 09 yang lalu:


 

blogger templates | Make Money Online